Senin, Desember 11, 2017

Sejarah Indonesia Dan Dijajahnya Indonesia Sekitar 350 Tahun Lamanya Oleh Belanda Serta Mitos Dalam Penulisan Sejarah Indonesia.

Sampai generasi 2000-an dalam latihan sejarah di sekolah, masih tidak sedikit tercatat tentang total tahun tahun penjajahan yang dilaksanakan oleh Belanda. 350 tahun, ini angka yang tidak jarang disuguhkan oleh buku-buku sejarah.

Angka yang luar biasa ini pasti membuat tidak sedikit orang berpikir, laksana apa bangsa Indonesia dahulu sampai dapat dijajah sekitar itu. Bahkan sebelum membicarakan tentang bangsa Indonesia pasti pemberian nama Indonesia teramat baru, yang diserahkan dua orang yang lain zaman hidupnya dan tidak saling mengenal.

Sejarah Indonesia

Nusantara ialah nama yang tepat untuk Indonesia, namun dalam artikel ini tidak akan membicarakan asal muasal dari nama Indonesia dan Nusantara. Buku “Bukan 350 Tahun Dijajah” karya G.J. Resink, Resink seorang lulusan dari sekolah tinggi hukum Batavia kemudian menjadi guru besar Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Buku ini sudah terbit semenjak 1968 oleh University of British Columbia.

Buku ini pembelaan yang dilaksanakan oleh pengarang atas kedahsyatan kerajaan yang sedang di Nusantara. Penulis mengkritik dengan keras atas tulisan-tulisan ilmuwan Belanda yang masih memandang Indonesia dijajah sampai 350 tahun.

Argumen yang dibangun pengarang sederhana saja, Indonesia ini dijajah secara parsial, tidak mempunyai sifat menyeluruh terlebih yang datang ke Indonesia sebelumnya bukan pemerintahan Belanda, namun kantor dagang yang berasal dari Belanda yang mempunyai nama VOC.

Awal kedatangan VOC untuk mengerjakan perdagangan dengan Nusantara dan menemukan langsung komoditas-komoditas sangat mahal di Eropa kala itu. Kedatangan VOC di Sunda Kelapa dan Maluku guna mendapatkan Cengkeh dan Pala, namun dalam perjalanannya mereka hendak melakukan monopoli atas produksinya.

Walhasil, menjajah merupakan teknik yang tepat. Memonopoli atas komoditas hanya dilaksanakan di Sunda Kelapa dan Ambon, kemudian dengan melulu memegang monopoli dua wilayah terebut apakah telah termasuk menjajah Indonesia? Padahal era tersebut Nusantara terbagi tidak sedikit kerajaan.

Dalam kitab tersebut, cara hukum internasional dan socio-culture dipakai untuk menilai apa yang dilaksanakan Belanda melulu menguasai Indonesia tidak lebih dari 45 tahun atau dapat jadi lebih tidak cukup dari itu. Selama 300 tahun lebih Belanda dan VOC berjuang untuk mengusai distrik Indonesia dengan sekian banyak  cara tergolong bekerja sama dengan kerajaan setempat.

Mitos Dalam Penulisan Sejarah 

Penulisan sejarah di Indonesia dimulai oleh semua penulis ilmuwan asal Belanda untuk menyerahkan interpretasi atas situasi Indonesia sekitar dijajah oleh Belanda. Kaum terpelajar di Indonesia inginkan tidak inginkan mendapatkan informasi dan latihan tentang sejarah Indonesia berasal dari sekolah Belanda, sampai-sampai berkembang aliran Eropasentris dan Indosentris.

Eropasentris menyaksikan bagaimana Indonesia dari kacamata ilmuwan Eropa yang tiba di Indonesia, menyaksikan Indonesia yang kala tersebut menjadi sejumlah bagian kerajaan dan posisi bangsa Indonesia sebagai distrik jajahan.

Indosentris menyaksikan bagaimana pertumbuhan Indonesia dari kaca mata warga Indonesia. Indonesia yang terbagi sekian banyak  macam kerajaan namun tepat berkolaborasi antar kerajaan yang menyusun sistem kerajaan yang baik.

Sebagian besar warga Indonesia saat Belanda telah menguasai Indonesia mendapatkan latihan dari Belanda menurut aliran Eropasentris.

Peranan buku-buku latihan yang berkembang kala tersebut membentuk generasi muda Indonesia paska kemerdekaan. Generasi muda era 1920-an dan 1930-an adalahgenerasi yang bakal memimpin Indonesia sesudah merdeka.

Walhasil, pidato-pidato mereka akan tidak sedikit terpengaruh oleh buku-buku yang diterbitkan oleh pemerintah kolonial. Salah satunya pidato Bung Karno untuk menghanguskan semangat Indonesia dengan melafalkan Indonesia dijajah Belanda sekitar 350 tahun.

Ini bermula dari kitab pelajaran sejarah yang dipakai sekolah-sekolah kolonial yang menurut dua ilmuwan Belanda, Eijkman dan Tapel.

Semua sekolah menengah menggunakan kitab ini, kitab Stapel ini menjadi sumber untuk masyarakat umum guna menimba pengetahuan mengenai sejarah Nusantara. Buku sejarah itu diterbitkan pada masa kolonial, Negara-negara Pribumi sudah hilang dari peta Nusantara, kecuali Aceh yang masih merdeka.

Di Kalimantan, menurut kitab tersebut melulu ada kongsi-kongsi Cina yang sebelum 1854 beraksi selayaknya republik mandiri. Di Bali, raja-raja merdeka melulu ada sebelum 1849.

Di Sulawesi Selatan, melulu ada kerajaan Bone, Wajo, dan Luwu yang adalahpemerintahan sendiri. Di Sulawesi Tengah ada sejumlah negara kecil yang masih merdeka dan tergabung dalam berbagai format perserikatan.

Sebenarnya terdapat semacam pengingkaran suasana pada abad ke-19 dan mula abad ke-20, dimana raja-raja dan negeri-negeri dalam sekian banyak  tingkat hubungan dengan Batavia masih dikenal. Dengan demikian.

terciptalah citra Nusantara dijajah lebih dari tiga ratus tahun. Bahkan dalam edisi ke-6 kitab pelajaran yang keluar pada 1930, bukan lagi ada negara-negara kecil di Sulawesi Tengah, demikian pula raja-raja Bali sebab kerajaan-kerajaan tersebut telah hilang kemerdekaannya.

Dalam penulisan kitab sejarah memang tidak terdapat masalah guna digeneralisasi, namun tidak guna di universitas. Kenyataan berbicara lain, sejumlah buku di universitas juga belum berubah hingga tahun 1970-an, sebab sumber-sumber guna sekolah berasal dari universitas.

Bagi perlunya semua ilmuwan sejarah di Indonesia untuk mencari sejarah bangsanya sendiri, tidak dapat lagi terpaku dari penulisan sejarah kolonial.

Penulisan semua sejarawan Belanda mesti mulai ditinggalkan, sebab bernuansa generalisasi yang dominan  mitos-mitos hadir dan kriteria kepetingan bakal masa kolonial. Bangsa ini benar-benar mesti serius menyebutkan sejarahnya.

sebab mitos sejarah yang bermunculan dari penulisan sejarah di masa kemudian dan hidup dalam penghayatan sejarah masa kini, besok akan mati dalam penulisan sejarah di masa depan bareng kebudayaan dan generasi yang mendukungnya.

300 Tahun Lebih

Butuh 300 tahun lebih untuk Belanda guna menguasai Indonesia secara utuh. Awal kedatangan VOC jelas guna mendapatkan komoditas yang mahal yang dipasarkan Eropa, namun tersebut pun hanya di dekat pelabuhan Sunda Kelapa.

Perkataan Gubernur Jendral B.C. de Jonge berbicara “kami orang Belanda telah berada di sini 300 tahun dan anda akan bermukim 300 tahun lagi”. Perkataan tentang “sudah sedang di sini 300 tahun” diterangkan sebagai menduduki wilayah Nusantara mesti dikoreksi dengan cermat.

Tahun 1619 saat VOC kesatu kali datang yang dirasakan wilayah Nusantara suatu kekeliruan fatal dalam menyaksikan wilayah Nusantara. Apalagi itu melulu sebagaian distrik dari Jakarta Utara. Penguasaan distrik yang amat sulit laksana Aceh, Minangkabau, Jawa Tengah, dan distrik Batak membutuhkan nyaris lebih 50 tahun untuk masing-masing daerah.

Tidak gampang untuk mendapatkan distrik tersebut, misal nyata bagaimana menghadapi Perang Padri dan Perang Diponegoro. Ketika Perang Diponegoro sedang dilangsungkan Perang Padri berjuang diredam, Perang Diponegoro tidak sedikit menghabiskan perkiraan dan sumber daya pertahanan.

Dengan demikian, perlawanan yang terbuat bukan dinamakan sebagai penjajahan namun perlawanan dari negeri-negeri yang merdeka, sebab tidak dipungkiri Perang Diponegoro dimulai karena pelanggaran batas distrik yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda. Butuh 300 tahun lebih untuk pemerintah Hindia Belanda untuk dapat mengusai distrik Indonesia dengan sekian banyak  cara.

Pengakuan terhadap negara-negara merdeka saat terbentuk pemerintahan Hindia Belanda berulang saat Belanda mengakui kebebasan Indonesia sesudah agresi militer kedua. Pengakuan secara hukum oleh pihak pemerintah Hinia Belanda adalahsebuah kenyataan Nusantara yang menjadi Indonesia ialah negeri yang merdeka.

Bukan suatu negeri yang lemah dan dengan gampang untuk dijajah sekitar 350 tahun. Sudah seharusnya generasi muda Indonesia mengolah pola pikir dari bangsa yang dirasakan terjajah menjadi yang memang negeri yang merdeka seutuhnya. Indonesia tetaplah negara yang merdeka, yang dilirik oleh tidak sedikit bangsa guna mendapatkan potensi besar untuk kebutuhan pasar dunia.

Pengakuan yang berulang oleh Belanda melulu sekedar perkataan manis belaka guna menolak kenyataan Indonesia ialah negeri yang merdeka semenjak awal, bukan sebagai mitos negeri terjajah sekitar 350 tahun.

Silahkan Berkomentar Dengan Baik, Jika Terdapat Link Aktif Otomatis Komentar Akan Kami Hapus!
EmoticonEmoticon

close