Jumat, Oktober 27, 2017

Definisi Dan Pengertian Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa ialah persamaan antar format yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi adalahsalah satu proses morfologi di mana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang sudah ada.
Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.

persamaan atau persesuaian antara dua benda atau urusan yang berlainan.kesepadanan antara format bahasa yang menjadi dasar terjadinya format lain,  sesuatu yang sama dalam bentuk, susunan, atau fungsi, tetapi berbeda asal-usulnya sampai-sampai tidak terdapat hubungan kekerabatan.

Analogi Botol

Analogi ialah salah satu jenis penalaran induktif. Dalam definisi umum, analogi ialah proses penalaran menurut pemantauan terhadap fenomena khusus dengan mencocokkan atau mengumpakan sebuah objek yang telah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan hingga dengan benang merah yang berlaku umum.

Sebagai sebuah proses penalaran, analogi menurunkan suatu benang merah menurut keserupaan aktual antara dua hal. Penarikan simpulan dengan teknik analogi berpendapat bahwa andai dua urusan memiliki sejumlah kesamaan, aspek beda pun mempunyai kesamaan.

 Dari pemahaman ini, analogi bertujuan guna meramalkan kesamaan, mengungkapkan kekeliruan, dan merangkai sebuah klasifikasi.

Contoh analogi, misalnya insan tidak suka diganggu dan ditakut-takuti keselamatannya. Mengingat hewan juga memiliki sifat yang secara relatif sama dengan manusia, sesudah kita bandingkan, saya dan anda bisa menyimpulkan bahwa hewan juga tidak inginkan diganggu, lagipula diancam keselamatannya.

Bedanya, hewan menggunakan naluri untuk memahami dan menghadapi bahaya yang mengancamnya, sedangkan insan menggunakan keterampilan berpikirnya.

Istilah analogi ialah kalimat yang mencocokkan dua urusan yang memiliki kesamaan makna.  Sehingga dengan menyerahkan dua urusan yang memiliki kesamaan makna ini, diinginkan seseorang yang memperhatikan dapat menciduk makna yang dimaksud oleh si pembicara.

Baca Juga : Pengertian Algoritma Dalam Pemrogaman Beserta Contoh

Dalam ilmu bahasa, analogi adalahpersamaan antar format yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk lain. Dalam kehidupan keseharian analogi dipungut dari pengamatan fenomena dalam kehidupan dengan mencocokkan objek yang dicermati dengan objek yang dianalogikan.

Berikut sejumlah contoh kalimat analogi dan pembahasannya.

Seseorang yang tidak tau akan melakukan apa guna masa depanya tak berbeda dengan pelancong yang tidak membawa peta.
Kalimat tersebut menciptakan persamaan antara ketidaktauannya dengan pelancong yang tidak membawa peta. Karena seorang pelancong yang tidak membawa peta tidak tau kemana bakal pergi atau kembali. Sehingga andai seseorang itu tidak tau mau melakukan apa guna masa depannya bakal tersesat laksana pelancong tersebut.

Membaca buku ialah memahami sepaham-pahamnya bukan sekedar menyimak sebanyak-banyaknya laksana shalat sunnah yang kusyuk bukan sebatas seberapa tidak sedikit rakaatnya.
Pada kalimat analogi tersebut, si pembicara mengucapkan pesan bahwa membaca kitab seharusnya secara teliti dan tidak sekedar menyimak sebanyak-banyaknya atau menuntaskan satu kitab dalam masa-masa yang singkat sebab yang terpenting dari membaca ialah hasil ilmu yang didapatkan.

Dalam urusan ini penceramah berusaha supaya lawan bicara bisa lebih menciduk maksud yang ia ucapkan dengan menganalogikan menyimak dengan shalat sunnah. Karena dalam shalat sunah, seorang muslim dapat saja mengerjakan shalat dengan jumlah rakaat yang banyak. Namun apakah ini effektif andai orang itu shalatnya tidak khusyuk.

Wanita yang mengawal hati dan pikirannya memiliki keelokan yang alami dari dalam hati laksana air pegunungan.
Analogi yang dipakai oleh penceramah dalam urusan ini, dengan menciptakan persamaan dengan alam. Pembicara berjuang menyampaikan maksud dengan menyamakannya dengan air pengunangan yang bersih, segar, dan alami. Diharapkan dengan menganalogikan dengan air pegunungan, pendengar bisa mengimajinasikan pesan yang ia sampaikan.

Hati dan perkataan Nita sopan, santun, dan menenangkan seperti embun pagi di mula musim hujan.
Dalam urusan ini, pembicara memakai analogi laksana embun supaya orang yang memperhatikan dapat mengetahui maksud yang hendak ia sampaikan. Penggunaan analogi ialah sebagai perumpamaan bahwa hati dan perkataan nita sopan, santun dan menciptakan hati damai laksana embun pagi di mula musim hujan.

Kenapa mesti embun di mula musim hujan? Karena embun di mula musim hujan ialah embun yang sangat ditunggu-tunggu oleh orang-orang setelah melalui musim kemarau yang panjang.

Seperti bermain bola yang membutuhkan teknik menggiring bola, kerjasama tim, dan saling mengetahui pemain, memimpin perusahaan ialah hal yang kompleks.
Perumpamaan yang dipakai di dalam kalimat analogi di atas menyamakan kata memimpin dengan bermain bola. Dijelaskan dalam kalimat di atas bahwa memimpin perushaan bukan urusan yang mudah, tetapi hal yang kompleks laksana bermain bola yang membutuhkan teknik menggiring, kerjasama tim, serta saling mengetahui antar pemain.

Dalam kalimat itu pembicara menempatkan klausa perumpamaan di mula kalimat sehingga menyerahkan penekanan di mula kalimat baru menyatakan apa yang hendak disampaikan.

Setiap bayi yang tercetus ke dunia ini berada dalam suasana suci laksana kertas putih.
Pada kalimat tersebut, pembicara berjuang membuat perumpamaan atau analogi dengan menyamakan masing-masing bayi yang bermunculan dalam suasana suci laksana kertas putih. Karena masing-masing bayi yang tercetus memiliki suasana suci dan terbebas dari dosa.

Namun ibunyalah yang membuatnya kotor. Setiap bayi yang terlahir, andai ibunya mendidiknya dengan baik dan benar bakal tumbuh menjadi anak yang baik.

Menuntut ilmu memang melelahkan, sama seperti memanjat gunung.
Analogi yang dipakai di dalam kalimat tersebut memakai persamaan dengan usaha yang mesti anda keluarkan saat mendaki gunung. Pembicara berjuang mengungkapkan bahwa menuntut ilmu seperti memanjat gunung.

Perlu tidak sedikit usaha untuk menjangkau puncak gunung namun saat sudah menjangkau puncaknya, rasa lelah bakal terobati saat melihat pemandangan dari puncak gunung.

Mencari cinta yang sempurna seperti menggali jarum di tumpukan jerami.
Analogi yang dipakai dalam kalimat ini ialah dengan perumpamaan menggali di tumpukan jerami. Pesan yang penceramah sampaikan ialah bahwa menggali cinta bukanlah urusan yang tidak mungkin. Seperti menggali jarum ditumpukan jerami maksudnya ialah bahwa urusan ini ialah hampir tidak barangkali dilakukan.

Meskipun terdapat kemungkinan, namun lebih baik anda menerima seseorang apa adanya dan berusaha supaya saling membetulkan diri dari pada menggali yang sempurna.

Cinta yang hilang bukan meninggalkan luka tapi latihan hidup, laksana hujan yang mengairi dedaunan.
Pembicara berjuang menyampaikan bahwa tidak terdapat gunannya menangisi masing-masing cinta yang hilang sebab cinta yang sudah pergi seharusnya menyerahkan pelajaran supaya kita dapat mencari cinta yang lebih baik lagi dan bukan menyesali cinta yang sudah pergi.

Analogi yang dipakai di dalam kalimat ini guna memperjelas bahwa cinta yang sudah pergi laksana hujan yang mengairi dedaunan. Karena air hujan memang menciptakan daun-daun menjadi basah tapi tidak sedikit juga manfaatnya seperti mencuci dedaunan dari debu yang menempel di dedaunan sampai membasahi tanah yang menyuburkan tanah.

Selain tersebut juga air hujan bakal menguap seiring dengan terbitnya matahari. Dari urusan ini kita dapat memetik latihan dari turunnya air hujan guna melupakan luka dan memungut pelajaran darinya
.
Mendidik seorang anak dengan teknik memarahi malah akan menciptakan kecerdasannya tidak berkembang, laksana merawat bonsai.
Hal ini menyerahkan perumpamaan dengan menyamakan mendidik anak dengan teknik tidak memarahinya. Karena akibat dari anak-anak yang sedang dalam proses berkembang ialah rusaknya jaringan benak yang sedang berkembang.

Pembicara berjuang menganalogikan urusan ini dengan mengasuh bonsai. Karena saat merawat bonsai kita malah membuatnya supaya tidak berkembang. Ketika mengasuh bonsai kita melulu mencari keindahan dari bonsai namun tidak mengizinkannya tumbuh besar dengan mencukur daun-daunnya dan mengikatkan kawat di batangnya supaya ranting-rantingnya tidak membesar.

Sehingga analogi yang dipakai bermaksud memarahi anak-anak laksana menghambat anak-anak supaya otaknya berkembang laksana merawat bonsai yang tidak bakal berkembang.

Macam – Macam Analogi
Analogi dipisahkan menjadi dua macam yaitu:

1. Analogi Deklaratif
Analogi deklaratif atau biasa dinamakan dengan analogi penjelas adalahmetode untuk menyatakan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang telah dikenal. Sejak zaman dahulu analogi deklaratif merupakan teknik yang amat berfungsi untuk menyatakan masalah yang berkeinginan diterangkan.

Contoh:
- Ilmu pengetahuan tersebut dibangun oleh fakta-fakta sebagaimana rumah tersebut dibangun oleh batu-batu. Tetapi tidak semua kelompok pengetahuan tersebut ilmu, sebagaimana tidak seluruh tumpukan batu ialah rumah.
- otak tersebut menciptakan benak sebagaimana buah ginjal menerbitkan air seni.

Di sini orang berkeinginan menjelaskan struktur ilmu yang masih asing untuk pendengar dengan struktur lokasi tinggal yang telah begitu dikenal. Begitu pula penjelasaan mengenai hubungan antara benak dan benak yang masih samar diterangkan dengan hubungan antara buah ginjal dan air seni.

2. Analogi Argumentatif
Analogi Argumentatif cara yang didasarkan pada benang merah bahwa bilamana suatu hal memiliki satu atau lebih ciri yang sama laksana ada pada sebuah hal lain. Maka ciri-ciri lainnya dari urusan yang kesatu tersebut juga dipunyai oleh urusan yang kedua tersebut.

Dengan kata lain, analogi jenis ini adalah analogi yang dibentuk menurut persamaan principal yang terdapat pada dua fenomena, kemudia ditarik benang merah bahwa apa yang terdapat pada gejala kesatu ada pun pada gejala yang kedua. Analogi argumentatif pun biasa dinamakan dengan analogi induktif.

Contoh:

  • Anjing hitam menyalak, memburu orang dan menggigit.
  • Anjing coklat menyalak dan memburu orang.

Walaupun analogi argumentatif tidak pernah dapat disebutkan “valid”, dalam makna  bahwa benang merah dari argument-argument tersebut bersumber pada premis-premisnya dengan keniscayaan analogikal, tetapi terhadap argument-argument analogikal tersebut kita dapat mengaku bahwa argument yang satu lebih meyakinkan ketimbang yang lainnya.

Analogi argumentatif bisa dinilai menurut probabilitas mengenai sejauh mana argument tersebut menyokong kesimpulannya.

Cara Menilai Analogi
Dalam suatu analogi, dibutuhkan alat ukur guna mengukur keterpercayaan dari analogi tersebut. Adapun guna mengukur keterpercayaan suatu analogi bisa diketahui dengan perangkat berikut:

1. Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan.
Semakin besar peristiwa sejenis yang dianalogikan, semakin besar pula taraf keterpercayaanya. Semisal si A memakai jasa suatu biro penerbangan dan ternyata pelayanannya tidak menyerahkan kepuasan pada si A, maka atas dasar analogi, si A menyarankan untuk temannya guna tidak memakai biro penerbangan yang sama dengan yang dipakai tadi.

Analogi si A bakal semakin powerful dengan adanya si B yang pun tidak merasa puas dengan biro penerbangan tersebut. Analogi menjadi semakin powerful lagi sesudah ternyata si C, D, E, F dan G pun mengalami urusan yang serupa.

2. Sedikit banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi.
Contohnya:
mengenai sepatu yang sudah kita beli pada suatu toko. Bahwa sepatu yang baru saja anda beli pasti akan tahan lama dan enak digunakan karena sepatu yang dulu dibeli di toko ini juga tahan lama dan enak dipakai. Analogi ini menjadi lebih powerful lagi misalnya dianggarkan juga persamaan harganya, mereknya, dan bahannya.

3. Sifat dari analogi yang anda buat.
Sebagai contohnya bilamana kita memiliki mobil dan satu liter bahan bakarnya bisa menempuh 10 km, lantas kita memutuskan bahwa mobil B yang sama dengan mobil anda akan dapat menempuh jarak 10 km tiap satu liternya, maka analogi demikian lumayan kuat.

Analogi ini bakal lebih kuat andai kita menuliskan bahwa mobil B bakal menempuh 8 km masing-masing liter bahan bakarnya, dan menjadi lemah andai kita menuliskan bahwa mobil B bakal dapat menempuh 15 km masing-masing liter bahan baakarnya. Jadi semakin rendah taksiran yang anda analogikan semakin powerful analogi itu.

4. Mempertimbangkan terdapat tidaknya unsur-unsur yang bertolak belakang pada peristiwa yang dianalogikan.
Semakin tidak sedikit pertimbangan atas unsu-unsurnya yang bertolak belakang semakin powerful keterpercayaan analoginya. Konklusi yang anda ambil bahwa Zaini pendatang baru di Universitas X bakal menjadi sarjana yang ulung karena sejumlah tamatan dari universitas tersebut pun adalahsarjana ulung.

Analogi ini menjadi lebih kuat andai kita mempertimbangkan pun perbedaan yang terdapat pada semua lulusan sebelumnya. A,B,C,D dan E yang memiliki latar belakang yang bertolak belakang dalam ekonomi, edukasi SLTA, daerah, agama, kegiatan orang tua toh kesemuanya ialah sarjana yang ulung.

5. Relevan tidaknya masalah yang dianalogikan.
Bila tidak relevan telah barang pasti analogikanya tidak powerful dan bahkan bias gagal. Bila kita memutuskan bahwa mobil yang baru anda beli masing-masing liter bahan bakarnya,

bakal menempuh 15 km menurut analogi mobil B yang sama modelnya serta jumlah jendela dan tahun produksinya sama dengan mobil yang anda beli ternyata bisa menempuh 15 km masing-masing liter bahan nakarnya, maka analogi serupa ialah analogi yang tidak relevan.

Seharusnya untuk memutuskan demikian mesti didasarkan atas unsur-unsur yang relevan yakni banyaknya silinder, kekuatan daya tariknya serta berat dari bodinya.

Analogi yang mendasarkan pada sebuah hal yang relevan jauh lebih powerful daripada analogi yang mendasarkan pada selusin persamaan yang tidak relevan. Penyimpulan seorang dokter bahwa guna mengobati tuan B ialah sebagaimana yang telah dilaksanakan terhadap tuan C sebab keduanya menderita firasat terserang penyakit yang sama dank arena jenis darahnya sama.

jauh lebih powerful disbanding andai mendasrkan pada paersamaan lebih tidak sedikit tetapi tidak  relevan, misalnya sebab umurnya, bintang kelahirannya, latar belakang pendidikannya, warna kulitnya, jumlah anaknya dan kesukaannya.

Analogi yang relevan seringkali ada pada peristiwa yang memiliki hubungan kausal. Meskipun melulu mendasarkan pada satu atau dua persamaan, analogi ini lumayan terpercaya kebenarannya.

Kita memahami bahwa sambungan rel kereta api diciptakan tidak rapat guna menjaga bisa jadi mengembangnya bila kena panas, rel tetap pada posisinya, maka anda akan mendapat kemantapan yang powerful bahwa rangka lokasi tinggal yang anda buat dari besi pun akan terlepas dari bahaya melengkung bila kena panas, sebab kita telah mengajak tukang untuk menyerahkan jarak pada tiap sambungannya.

Di sini kita melulu mendasarkan pada satu hubungan kausal bahwa sebab besi memuai bila kena panas, maka jarak yang diciptakan antara dua sambungan besi bakal menghindarkan bangunan dari bahaya melengkung. Namun begitu analogi yang mempunyai sifat kausal menyerahkan keterpercayaan yang kokoh.

Analogi yang Pincang
Meskipun analogi adalahcorak penalaran yang populer, tetapi tidak seluruh penalaran analogi adalahpenalaran induktif yang benar. Ada masalah yang tidak mengisi syarat atau tidak bisa diterima, meskipun sepintas sulit untuk kita mengindikasikan kekeliruannya. Kekeliruan ini terjadi sebab membuat persamaan yang tidak tepat.

Contoh kesalahan pada analogi induktif ialah sebagai berikut:
Saya heran kenapa orang fobia bepergian dengan pesawat terbang sebab sering terjadi kemalangan pesawat terbang dan tidak tidak banyak meminta korban. Bila demikian usahakan orang tidak boleh tidur di lokasi tidur sebab hamper semua insan menemui ajalnya di lokasi tidur.

Di sini naik pesawat terbang ditakuti sebab sering memunculkan petaka yang mengakibatkan maut. Sedangkan orang tidak fobia tidur di lokasi tidur sebab jarang sekali atau boleh disebutkan tidak pernah terdapat orang mendatangi ajalnya sebab kecelakaan lokasi tidur.

Orang meninggal di lokasi tidur bukan diakibatkan kaecelakaan lokasi tidur tetapi sebab penyakit yang diidapnya. Jadi di sini orang menyamakan dua urusan yang sebetulnya berbeda.

Berikut misal kekeliruan pada analogi deklaratif:
Negara kita telah sangat tidak sedikit berutang. Dengan pembangunan 5 tahun anda harus menumpuk utang terus menerus dari tahun ke tahun. Pembangunan 5 tahun ini memaksa rakyat dan bangsa Indonesia laksana naik perahu yang penuh yang semakin tahun semakin penuh (dengan utang) dan kesudahannya tenggelam.

Saudara-saudara, anda tidak hendak tenggelam dan mati bukan? Karena tersebut kita lebih baik tidak naik kapal penuh itu. Kita tidak perlu mengemban pembangunan 5 tahun.

Baca Juga : Pengertian Analisis Menurut Berbagai Sumber Lengkap

Di sini seseorang tidak setuju dengan pembangunan 5 tahun yang sedang dilakukan dengan analogi yang pincang. Memang Negara saya dan anda butuh melakukan pinjaman guna membangun. Pinjaman itu dipakai seproduktif barangkali sehingga dapat menambah devisa Negara.

Dengan demikian pendapatan  per kepala bakal meningkat dibanding  sebelumnya, demikian seterusnya dari tahun ke tahun sehingga penambahan kesejahteraan rakyat bakal tercapai. Pembicara di sini melulu menekankan segi utangnya saja, tidak memperhitungkan segi-segi positif dari kearifan menempuh pinjaman.

Sebuah analogi yang pincang bisa pula didatangi dalam pengakuan berikut:
Orang yang sedang belajar tersebut tidak ubahnya seorang mengayuh biduk ke pantai. Semakin enteng muatan yang terdapat dalam biduk semakin cepat ia bakal sampai ke pantai.

Diperlakukannya SPP tersebut tidak ubahnya menyerahkan muatan pada biduk yang sedang dikayuh, jadi memperlambat jalan biduk mengarah ke pantai. Agar destinasi orang yang belajar lekas hingga maka seharusnya keharusan membayar SPP dihapus.

Analogi ini pincang karena melulu memperhatikan beban yang mesti ditunaikan oleh masing-masing pelajar,  tidak memperhitungkan manfaat keharusan membayar SPP secara keseluruhan.

Analogi pincang model kedua ini amat tidak sedikit digunakan dalam polemik maupun dalam propaganda guna menjatuhkan pendapat lawan maupun mempertaahankan kepentingan sendiri. Karena sifatnya laksana benar analogi ini paling efektif pengaruhnya terhadap pendengar.

Kesimpulan
Merujuk pada uraian singkat tentang analogi di atas, bisa ditarik sejumlah kesimpulan sebagai berikut:

Analogi ialah kesimpulan yang ditarik dengan jalan mengucapkan atau memperbandingkan suatu kenyataan khusus dengan kenyataan khusus lain.

Terdapat 3 bagian dalam penyimpulan analogik, yaitu: peristiwa pokok yang menjadi dasar analogi, persamaan principal yang menjadi pengikat, dan ketiga gejala yang berkeinginan kita analogikan.
Macam analogi terdapat dua, yaitu analogi deklaratif dan analogi argumentatif.

Dalam menilai keterpercayaan sebuah analogi hendaknya menyaksikan factor-faktor berikut:

  • Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan, 
  • tidak banyak banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi, 
  • sifat dari analogi yang anda buat, 
  • terdapat tidaknya unsur-unsur yang bertolak belakang pada peristiwa yang dianalogikan, 
  • serta Relevan tidaknya masalah yang dianalogikan.

Analogi yang pincang adalah penalaran induktif yang tidak mengisi syarat atau tidak bisa diterima sebab membuat persamaan yang tidak tepat.

Demikian penjelasan tentang kalimat analogi dan contoh-contohnya serta keterangan dari analogi tersebut. Semoga teman-teman bisa memahami tulisan ini serta bisa mengaplikasikan dalam keilmuan berbahasa.

Jika Ada Yang Ingin Request Atau Ditanyakan Seputar Pengertian, Arti, Definisi, Penjelasan, Penafsiran, Pemahaman, deskripsi, Maupun Makna, Dan Bisa Dibuat Sebagai Bahan Makalah Atau Laporan..Silahkan Komentar Dibawah Atau Bisa Mengirim Kami Request Lewat Contact Form.

Silahkan Berkomentar Dengan Baik, Jika Terdapat Link Aktif Otomatis Komentar Akan Kami Hapus!
EmoticonEmoticon

close